Rabu, 26 Oktober 2011

GENERASI MUDA INDONESIA DI ERA DIGITAL (SUMPAH PEMUDA BUKAN SAMPAH PEMUDA)

Article and Blog Competition HIMA ADP UNY 2011

P

emuda Indonesia, 83 tahun sudah menyatakan sumpah bahwa mereka mengaku bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu yaitu INDONESIA. Sumpah para pemuda itu pun bukan hanya sekedar sumpah di mulut saja, namun mereka mampu membuktikannya dengan tindakan yang bisa mengubah dunia. Tahun 1945 karena pemudalah kemerdekaan di Negeri ini tercapai pada 17 Agustus 1945, tahun 1966 aksi mahasiswa dengan TRITURA-nya mampu menumbangkan rezim Orde Lama, dan tahun 1998 yang merupakan tahun bersejarah bagi Indonesia karena setelah 32 dibawah kukungan rezim Orde Baru dapat ditumbangkan oleh mahasiswa, yang merupakan bagian dari pemuda Indonesia.

Namun kini semua itu terasa sia-sia setelah 13 tahun lebih masa Reformasi, masa dimana pemuda Indonesia menjadi Agen of Change yang mampu menunjukan taringnya atas ketidak adilan, mampu menunjukan kekuatannya di atas penindasan dan mampu menunjukan "ini lho pemuda", di atas kekuasan yang sudah mulai mengakar dan bertindak semaunya. Kini Pemuda tidak peduli lagi arti dari perjuangan para Pahlawan Muda yang selalu menuntut perbaikan dan keadilan bagi Rakyat Indonesia. Kini mereka disibukan dengan aktifitas yang membodohkan mereka; gengsi, fashion, tekhnologi dan segala kenikmatan yang disuguhkan di era digital ini telah membuai mereka menjadi sosok pemuda hedonis yang lebih suka berfoya-foya.

Masih hangat di telinga masyarakat Indonesia tragedi pengeroyokan wartawan yang dilakukan oleh salah satu sekolah di Jakarta. Peristiwa tersebut menunjukan betapa terkikisnya moral pemuda bangsa ini, mereka yang seharusnya menuntut ilmu guna meraih mimpi di masa depan justru malah melakukan tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh kaum terpelajar. Bahkan, kemrosotan moral yang terjadi di Indonesia tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya. Dalam situs search egine Google apabila kita memasukan key word berupa ‘cewek SMU’ atau ‘Mahasiswi’ maka kita akan disuguhkan oleh gambar-gambar para muda-mudi Indonesia yang tidak sepantasnya di unggah di dunia maya. Betapa buruknya moral Negeri ini di mata dunia Internasional? Apabila para pahlawan yang pernah memperjuangkan hak-hak rakyat Indonesia dengan keringat, darah, dan pikiran mereka untuk negeri ini masih hidup dan melihat kelakuan para penerusnya seperti saat ini, pasti mereka memilih untuk menjadi budak penjajah. Karena apa?? Perjuangan mereka hanya disia-siakan dan membuat malu para pejuang yang merelakan segalanya untuk negeri ini.

Memang sulit untuk merubah pola pikir hedonis pada generasi muda saat ini, namun bukan berarti tidak mungkin. Seperti yang dikatakan Soekarno, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”[1]. Perubahan memang tidak bisa terjadi begitu saja karena banyaknya pemuda di negeri ini, namun mulai dari diri sendiri kita ubah pola pikir kita, kemudian kita pengaruhi teman, saudara, dan orang-orang di sekitar kita untuk lebih peduli terhadap perubahan yang terjadi di negeri ini. Sehingga bukan sekedar bicara namun kita buktikan dengan aksi bahwa masih ada agen of change di Indonesia. Sehingga kita bisa memaknai 28 Oktober itu sebagai Sumpah Pemuda, bukan menjadi Sampah Pemuda.



[1] Raniga. “Kumpulan Kata-Kata Mutiara Bung Karno Presiden RI (1945 – 1966)”. http://ranigaku.wordpress.com/2008/08/22/kata-mutiara-bung-karno/. (diakses 26 Oktober 2011)

3 komentar:

Arif Setiawan mengatakan...

kita selayaknya agen of change harus lebih banyak memberikan contoh-contoh positif terhadap lingkungan sekitar kita....
jangan sampai kita yang notabene sebgai orang yang terdidik dan berstatus "MAHAsiswa", malah memberikan angin negatif kepada masyarakat....
bangun pemuda-pemudi Indonesia 2011...

Iskandar mengatakan...

siap pak

Ahmad Syaiful Hidayat (ipung) mengatakan...

mantap..semngat !!!

Poskan Komentar