Selasa, 04 Januari 2011

Masa Pemerintahan Marcos di Filipina


A. Siapakah Ferdinand E. Marcos

Lelaki tua itu kini tak lagi di Istana Malacanang. Itulah Ferdinand Edralin Marcos, 68, tokoh yang dua dekade lalu dipuja-puja rakyat bagaikan sang penyelamat, setelah ia menyingkirkan Diosdado Macapagal dari kursi kepresidenan. Tak heran bila waktu itu Marcos dielu-elukan. Soalnya, golongan menengah bosan melihat tingkah Macapagal yang menguber-uber pajak kekayaan mereka. Mereka berharap di bawah Marcos segalanya akan berubah. Apalagi ia, ketika itu berusia 48 tahun, sudah dikenal massa, lewat penampilannya sebagai anggota Parlemen, sebagai tokoh energetik dan pintar. Ia sebelumnya memang sudah dikenal sebagai orang yang luar biasa. Dialah ahli hukum yang menyiapkan ujian akhir sarjana dari balik terali penjara, dan lulus dengan nilai terbaik yang pernah dicapai putra Filipina. Ia pernah menjadi juara menembak di negerinya, satu-satunya presiden yang terpilih lebih dari satu kali, dan - yang ini harap jangan terlalu dipercaya--pahlawan kemerdekaan dengan segudang tanda jasa. Dua puluh tahun kemudian ia tak lagi disanjung-sanjung rakyat, kecuali di antara keluarga dan sejumlah pengagumnya. Kaum oposisi, terakhir juga Amerika, ia bagaikan seorang yang berbahaya, sehingga ia beserta keluarganya harus minggat dari Istana. Mengapa semua itu bisa terjadi? Pertanyaan serupa barangkali juga memenuhi benak Marcos sekarang. Dan, ia mungkin akan mencoba mencari jawabnya dengan melihat jauh ke belakang. Barangkali dari saat kehadirannya di dunia, ketika ayahnya, Mariano Marcos, waktu itu berusia 18 tahun, sibuk memotong tali pusar Ferdinand, yang lahir prematur pada 11 September 1917. Atau dimulai dari kenangannya tentang sepak terjang ayahnya di panggung politik: scbagai anggota Parlemen, yang terpilih dua kali, maupun sebagai gubernur Davao. Dan Ilocos Norte, tempat mereka tinggal, memang dikenal sebagai daerah sering bergolak. Terletak 500 km sebelah utara Manila, daerah itu dikenal gersang, maka temperamen penduduk pesisir itu juga cukup garang dan gemar mengembara. Tapi di mana pun orang Ilocos Norte berada, mereka bisa dikenali dari keuletan dan kepraktisannya. Tak heran jika banyak di antara mereka yang sukses di bidang bisnis atau politik. Dalam kancah "keras" seperti itulah Marcos digodok. Menurut Nyonya Cayetana Quevedo, guru Marcos di kelas I SD, bakat-bakat luar biasanya sudah terlihat dari dulu. "Dia murid yang sangat cerdas," tutur Nyonya Quevedo. Ketika ayahnya menjadi gubernur Davao, sehingga mereka harus meninggalkan Ilocos Norte, Marcos, yang sudah berumur belasan tahun, mendapat gemblengan lain. Ia dilatih ayahnya menunggang kuda dan berburu di kawasan hutan yang masih perawan. Konon, inilah masa-masa paling indah bagi Marcos. Masa itu diakhiri Marcos begitu tamat sekolah menengah, karena ia harus melanjutkan pelajaran ke University of Philippines di Manila. Marcos, yang menempelkan tulisan Mens sana in corpore sano (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat) di kamarnya, terbukti memang tidak hanya piawai di bidang pelajaran tapi juga dalam kegiatan jasmani. Ia memperoleh banyak piagam dan piala atas prestasinya sebagai petinju, perenang, dan pegulat. Ketika dikenai wajib militer, karena kepiawaiannya dalam bidang kewiraan, ia dianugerahi medali emas Jenderal MacArthur. Dalam hal berpidato, piala yang diraihnya, antara lain Piala Presiden Quezon. Sedangkan di dunia akademis, ia pernah menerima medali dari Rektor, karena berhasil mengumpulkan nilai-nilai tertinggi dalam studinya. Tapi, bukan berarti Marcos tak pernah mengalami masa sulit. Ia pernah kehilangan beasiswa, karena terlalu aktif di bidang ekstrakurikuler. Padahal, waktu itu, ayahnya sedang kesulitan keuangan, karena habis-habisan membiayai kampanye untuk menjadi anggota Parlemen. Untung, kakeknya segera turun tangan membiayai pendidikan Marcos. Ketika duduk di tingkat terakhir Marcos dapat cobaan. Beberapa hari sebelum Natal 1939, ketika Marcos sedang asyik mengikuti kuliah, tiba-tiba masuk sepasukan polisi ke ruang belajar, dan menangkapnya. Ia dituduh membunuh Julio Nalundasan, yang sudah dua kali mengalahkan ayahnya dalam pemilihan anggota Parlemen. Pembunuhan terjadi tiga hari setelah pemilihan. Sebutir peluru pistol kaliber 22 menembus tubuh Nalundasan, sewaktu ia tengah menggosok gigi. Dan, tak ayal, tuduhan dialamatkan pada Marcos. Pengadilan Negeri, yang menganggap tuduhan itu terbukti, melontarkan Marcos ke penjara. Ia, saat itu berusia 19 tahun, mengajukan banding ke Mahkamah Agung, serta mohon kesempatan mengajukan pembelaan sendiri. Permintaan itu dikabulkan. Maka, dari balik penjara, Marcos mempersiapkan dua hal: ujian dan pembelaan diri. Dan, Marcos berhasil dalam kedua hal itu. Bahkan nilai ujiannya tercatat sebagai rekor nasional. Setelah koran-koran memuat berita prestasi sekolah Marcos, yang lulus summa cum laude itu, tak lama kemudian, Mahkamah Agung memutuskannya tak bersalah, dan membebaskannya. Sewaktu Perang Dunia II meletus, dan Jepang pun bergerak ke Filipina, maka Amerika Serikat, penguasa di Filipina ketika itu, tak tinggal diam. Wajib militer diberlakukan di Filipina, dan Marcos pun menjadi letnan pada Batalyon Infanteri ke-21. Tugas utamanya sebagai intel. Karena tugas intel tak banyak diketahui orang, maka terdapat dua versi mengenai peran Marcos selama PD II.

B. Masa Pemerintahan Ferdinand E. Marcos

B.1. Periode 1966-1972

Terpilihya Marcos dalam tahun 1965 pada umumnya disambut lega, baik di kalangan Filipina maupun pengamat-pengamat asing. Walaupun pada tahun 1961 Macapagal mampu membangkitkan antusiasme, namun pada zaman baru Macapagal menjanjikan penekanan pada perbaikan nasib rakyat kecil serta tekad menjadi pemimpin yang berwibawa, pemberantasan korupsi, dan program besar-besaran dalam bidang sosio ekonomi rupanya tak kunjung dipenuhi. Jadi dengan terpilihnya Marcos menjadi presiden Filipina ini, Marcos menjanjikan suatu awal yang baru kembali. Marcos merupakan anak dari seorang pengacara dan tokoh politik yang berasal dari Ilocos di daerah Luzon bagian utara.

Marcos mulai menarik perhatian masyarakat pada tahun 1939, yaitu pada saat Marcos berhasil meraih nilai yang paling tinggi dalam ujian nasional dan akhirnya memperoleh izin praktek sebagai pengacara serta sekaligus berhasil memenangkan perkaranya pada tingkat naik banding berkaitan dengan tuduhan bahwa Marcos telah membunuh saingan ayahnya dalam salah satu pemilihan pada masa lampau.

Reputasi Marcos kemudian semakin menggemparkan dengan kisah-kisahnya mengenai keperkasaannya ketika menjadi pemimpin geriliya dalam Perang Dunia II dengan isu bahwa Marcos dilindungi oleh sebuah jimat yang mana merupakan pemberian dari pemimpin sebuah gereja, yaitu Gereja Merdeka Filipina.

Kemampuan politik Marcos tercipta melalui peranannya dalam mengorganisasikan suatu pemerintahan pasca perang di Luzon bagian utara serta keberhasilannya memperjuangkan pembayaran uang rapel dan tunjangan-tunjangan lainnya dari Amerika Serikat untuk para veteran Filipina.

Marcos terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk pertama kalinya pada tahun 1949, dan akhirnya terpilih kembali pada tahun 1953 dan 1957. Marcos pada tahun 1959 Marcos mencalonkan diri menjadi anggota Senat, dan akhirnya berhasil menjadi yang teratas meskipun berasal dari Partai Liberal, karena pada saat itu Partai Nacionalista yang telah mendomonasi. Marcos memperkirakan bahwasannya partainya mampu membawanya dalam kemenangan namun ternyata kalah siasat dengan Macapagal.

Meskipun kalah siasat dengan Macapagal, keberuntungan berpihak pada Marcos sebab ternyata Macapagal mengingkari janjinya untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden yang kedua kalinya dan akhirnya Marcos pada pemilihan yang kedua bergabung dengan partai Nacionalista dan akhirnya mampu memenangkan pemilihan tersebut

Bagaimanapun prestasi yang dihasilkan oleh Marcos dalam pemilihan, sebenarnya didukung dengan melemahnya posisi Macapagal dan kemampuan Marcos dalam menjalinkan basis politiknya di Luzon bagian utara dengan basis politik keluarga istrinya dan calon presiden pasangannya yaitu Lopez. Kekayaan dari Lopez ini sangat membantu keberhasilan dalam kampanye.

Kekayaan Marcos sendiri juga mengundang kontraversi, karena berdasarkan pernyataan Marcos sendiri, kekayaan Marcos tersebut berasal dari penghasilan prakteknya sebagai seorang pengacara, namun lawan-lawannya menyatakan bahwa kekayaan Marcos berasal dari penyalagunaan jabatan-jabatan resminya untuk kepentingan pribadi.

Aksi-aksi kekerasan merajalela selama berlangsungnya kampanye pemilihan babak mid-term (masa pemerintahan), karena para penguasapolitik di daerah-daerah melancarkan tindakan-tindakan mempengaruhi lewat kekuatan senjata, uang, dan para tukang pukul untuk meraih kemenangan.

Namun justru karena itulah para calon yang didukug oleh Marcos mengalami kekalahan berat. Selain itu wakil presiden Lopez sudah memisahkan diri dari Marcos dan mengalihkan diri pada Partai Liberal. Mengenai alasan perpisahan antara Marcos dan Lopez ada berbagai versi. Marcos ternyata merintangi usaha keluarga Lopez untuk menambah harta mereka yang sudah banyak dan juga menuduh bahwasannya Lopez telah menyediakan dana untuk para aktivis mahasiswa.

B.2. Periode 1972-1983

Diberlakukannya Undang-undang Darurat Perang yang mencakup juga pembatasan-pembatasan terhadap kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan pers, dan kebebasan berkumpul, serta penyelesaian perombakan konstitusi oleh Sidang Konstituante menjelang akhir tahun 1972 dengan jelas menunjukkan bahwa akan dilakukan perubahan terhadap struktur –struktur dan prosedur-prosedur yang berhubungan dengan demokrasi Filipina.

Prakarsa-prakarsa politik maupun ekonomi nampaknya mencerminkan besarnya pengaruh dari apa yang dinamakan golongan teknorat, yang merupakan bagian dari koalisi baru yang dibentuk oleh Marcos.

Gerakan separatis Muslim yang dikorbankan oleh keterasingan selama berabad-berabad dan keresahan akibat sebagai migrasi penduduk beragama kristen pada waktu-waktu belakangan, serta dukungan dari luar oleh negara-negara dan organisasi-organisasi Islam berhasil memobilisasikan sekitar tiga puluh ribu pejuang bersenjata dan mampu mendominasi sebagian besar dari Mindanao bagian tengah dan barat daya serta kepulauan Sulu.

Perkembangannya dapat terlihat dari sudut pandang rezim, memberi pembenaran bagi peningkatan kekuatan militer serta terus diberlakukannya Undang-undang Darurat Perang. Di penghujung tahun 1972, ketika prakarsa-prakarsa yang diambil pada awal periode diberlakukannya Undang-undang Darurat Perang telah mengacaukan struktur dan pola-pola politik yang lama.

Antara tahun 1976-1980, Marcos membentuk puncak struktur, dibentuk suatu dewan legislatif nasional yang juga memberikan tanda wanti-wanti adanya amandemen-amandmen terhadap konstitusi yang diusulkan oleh Marcos.

Marcos menjabat juga sebagai presiden yang sekaligus merangkap menjadi perdana menteri, serta tetap memiliki kekuasaan yang sangat besar, termasuk hak menyetujui setiap rancangan undang-undang yang diusulkan dan memveto yang tidak dsukainya, serta hak untuk membubarkan majelis jika badan tersebut dinilainya tidak melakukan tugas dengan sebenarnya atau apabila ia menilai terdapat keadaan darurat nasional.

Pada tanggal 17 Januari 1981 presiden Marcos telah mengumumkan adanya pembatalan Undang-undang Darurat Perang yang saat itu sudah berlaku selama delapan tahun.

Peradilan dan penahanan orang-orang sipil yang melakukan pelanggaran oleh pihak militer juuga dihapuskan stahap demi setahap, sejumlah tahanan dibebaskan, kekuasaan legislatif dialihkan secara formal kepada Majelis Nasional Sementara. Meskipun begitu, Marcos tetap mempertahankan hak untuk mengeluarkan dekrit dan semua dekrit yang telah dikeluarkan di bawah Undang-undang Darurat tetap berlaku.

Dua belas hari kemudian Marcos mengeluarkan pengumuman kembali untuk meminta Majelis Nasional agar mempertimbangkan perubahan-perubahan terhadap konstitusi dengan ditegakkannya sistem parlementer dan kepresidenan gaya Prancis.

Meskipun antara tahun 1981 dan 1983 prakarsa politik kelihatan sepenuhnya berda di tangan Marcos, namun Marcos kurang berhasil mengendalikan faktor-faktor ekonomi yang baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang yang mana sangat mempengaruhi basis maupun stabilitas politik rezim yang berkuasa.

C. Krisis Ekonomi dan Politik

C.1. Krisis Ekonomi

Perekonomian Filipina adalah korban paling gawat yang melanda dunia sebagai akibat melonjaknya harga.minyak bumi untuk kedua kalinya pada tahun 1979. Neraca pembayaran Negara ini mengalami krisisinya yanbg paling parah pada akhir tahun 1982, disebabkan karena meningkatnya biaya import minyak bumi. Merosotnya haraga komoditi-komoditi ekspornya yang utama dari sector pertanian dipasaran dunia dan membumbungnya jumlah bunga yang harus di bayar untuk pinjaman luar negeri.

Pada bulan oktober 1983 pemerintah menyatakan tidak mampu membayar utang-utang luar negerinya dan meminta kepada 483 kreditor agar diberi keringanan berupa penangguhan. Kredit hutang ini meng hentikan aliran kredit perdagangan bernilai lebih dari $ 3 milyar, yang menyebabkan anjloknya import. Sepanjang tahun 1984, devisa yang masih dimiliki nyaris tidak mencukupi untuk meng impor minyak bumi. Pengangguran terselubung dikalangan angkatan kerja naik 36,5% sementara itu Pusat Riset dan Komunikasi Filipina melaporkan terjadi tindakan pemberhentian sementara terhadap lebih dari 400.000 pekerja pada tahun 1984. Sehingga menyebabkan perekonomian Filipina mengelami kemrosotan luar biasa pada tahun 1984 sebagai akibat krisis devisa yang gawat dan berlarut-larut.

C.2. Krisis Politik

Suatu krisis politik meletus setelah terjadi aksi pembunuhan terhadap Beniqno Aquini pada tanggal 21 Agustus 1983. Hal itu menyebabkan Aksi-aksi kalangan umum agar marcos mengundurkan diri akibatnya kepercayaan dunia bisnis terhadap Marcos merosot dengan cepat. Ini menyebabkan larinya modal secara besra-besaran, begitu pula menyebabkan pemerointah Filipina tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran kembali utang-utang luar negerinya. Bagi marcos sendiri hal itu berakibat sangat merosotnya legitimitas dan kewibawaannya. kalangan sahabat penting, baik didalam maupun diluar negeri juga mulai merenggangkan hubungan dengan marcos.

Gelombang demonstrasi yang menyusul peristiwa pembunuhan terhadap Aquino berlangsung lebih besar dlebih lama dari pada demonstrasi-demonstrasi lain sebelum itu. Untuk pertama kalinya para pengusaha terkemuka banyak berperan dalam mengorganisasikan demonstrasi-demonstrasi yang tidak lagi hanya berlangsung di kampus-kampus saja tetapi menjalar sampai kedaerah-daerah pusat perdagangan, dan pemukiman golongan atas. Tumbuhnya kegiatan politik di kalangan pengusaha ini dapat dikaitkan pada beberapa faktor. Bahkan sebelum terjadi peristiwa pembunuhan terhadap aquiono pun kalangan pengusaha sudah menyadari bahwa Negara Filipina sedang tergelincir kedalam jurang krisis keuangan yang disebabkan oleh pinjaman pemerintah secara berlebihan guna membiayai proyek-proyek yang bercorak “mercusuar”, ditambah oleh ambruknya perusahaan-perusahaan besar kepunyaan sejumlah pemilik modal yang dekat dengan pihak penguasa yang kemudian terpaksa diselamatkan oleh pemerintah.

D. Fakta Dibalik Terpilihnya Marcos

Tahun 1946, Marcos menerima ajakan Presiden Manuel Roxas untuk menjadi asisten khususnya. Sejak itu, ia mulai tertarik pada politik. Tiga tahun kemudian ia mencalonkan diri sebagai anggota Parlemen. "Pilihlah saya sebagai anggota Parlemen sekarang, dan saya janjikan akan ada presiden asal Ilocos dalam 20 tahun," katanya ketika berkampaye pertama kali. Ia berhasil memenangkan lebih dari 70% suara, dan terpilih ulang selama tiga kali (1949- 1959). Ketika menjadi wakil rakyat inilah Marcos berkenalan dengan Imelda Romualdez, di kantin Parlemen pada 1954. Waktu itu, Imelda, yang berpakaian sederhana dan asyik makan kuaci -- sedang menyimak pidato pamannya, yang menjadi juru bicara Parlemen. Marcos, saat itu 36, langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Imelda. Ia tak peduli gadis idamannya berasal dari kubu lawannya dan suku lain. Marcos berasal dari Ilocos Norte, dan wakil Partai Liberal, sedangkan keluarga Imelda dari Visayan yang dikenal merupakan daerah saingan Ilocos, dan mewakili Partai Nacionalista. Tak heran kalau, pada awalnya, Imelda tidak mengacuhkan pendekatan Marcos. Tapi, setelah rayuan intensif 11 hari, Imelda menyerah. Dua minggu kemudian, 1 Mei 1954, keduanya menikah di Manila. Presiden Ramon Magsaysay mengundang 3.000 tamu di Istana Malacanang untuk merayakan perkawinan ini. Sejak pernikahan itu popularitas Mercos memang semakin meningkat. Ia dengan mudah terpilih sebagai anggota Senat pada 1959, dan empat tahun kemudian menjadi ketua majelis itu hingga 1965. Menurut beberapa pengamat politik, sebenarnya Marcos bisa terpilih menjadi Presiden Filipina dalam Pemiiu 1961. Tapi, waktu itu, ia diminta mengalah kepada Macapagal, karena pendukung Partai Liberal khawatir kekuatan mereka akan terpecah bila Marcos ikut mencalonkan diri. Harap diingat, di Filipina rakyat memilih orang, bukan partai. Pada pemilihan presiden 1965, Marcos maju, dan menang. Ia menang mudah karena dapat dukungan dari kaum superkaya Pasalnya, para cukong ini tak menyukai Macapagal, yang melakukan kampanye antikorupsi dan antisuap secara besar-besaran selama ia berkuasa. Marcos, yang belajar dari kegagalan Macapagal, begitu berkuasa segera merangkul para pemilik modal dengan menggalakkan usaha mereka di bidang pertanian, industri dan pendidikan. Strateginya ternyata tepat. Terbukti pada Pemilu 1969, Marcos terpilih kembali. Ia adalah Presiden Filipina yang pertama berkuasa lebih dari satu kali masa jabatan.

E. Revolusi Bunga

Para pengamat politik Filipina sediri menilai, produk politik Marcos dalam menjalankan kekuasaannya bertentangan dengan konstitusi. Hal ini mendorong partai-partai oposisi di negeri Filipina untuk melancarkan suatu gerakan perlawanan yang makin tajam.
Bersamaan dengan aksi-aksi oposisi yang dilancarkan secara konstitusional untuk mengakhiri era pemerintahan Marcos, kaum gerilya komunis makin meningkatkan kegiatan bersenjatanya, begitu pula kaum separatis Moro yang ingin membentuk Negara sendiri di Filipina Selatan.
Karena situasi dalam negeri makin membahayakan stabilitas nasional, Presiden Marcos memberlakukan Undang-Undang Keadaan Darurat yang memerinya kekuasaan lebih besar untuk mengambil segala tindakan untuk menyelamatkan Filipina dari kehancuran. Namun menurut tuduhan pihak oposisi justru dipergunakan Marcos untuk melestarikan kekuasaannya.
Sejak berlakunya Undang-Undang Keadaan Darurat tersebut, banyak lawan Marcos yang mengalami siksaan dan entimidasi sehingga tidak kurang di antara tokoh-tokoh oposisi tersebut yang terpaksa menyingkir atau disingkirkan keluar Filipina. Gerakan oposisi semakin seru, dan tidak mengendur pada masa Undang-Undang Keadaan Darurat dengan sering terjadinya bentrokan-bentrokan fisik di ajlan-jalan kota Manila. Bulan Agustus 1983 seorang tokoh oposisi yang merupakan saingan politik utama Presiden Marcos kembali ke Filipina setelah diasingkan selama beberapa tahun di Amerika Serikat. Senator tersebut yaitu Benigno S. Aquino, tetapi ia tertembak mati setelah tiba di lapangan udara internasional Manila. Pihak oposisi menuduh Presiden Marcos dan para pemimpin militer yang mendukungnya berada di balik peristiwa pembunuhan tersebut. Dalam tewasnya Benigno S. Aquino kaum oposisi memperoleh momentum yang dasyat untuk melancarkan perlawanan yang lebih keras lagi untuk mengakhiri pemerintahan Marcos. Janda Senator Benigno S. Aquino yaitu Ny. Maria Corazon bersama pimpinan oposisi lainnya, yaitu Senator Salvador Laurel, dengan berani turun langsung mengambil alih kemimpinan oposisi untuk menentang pemerintahan Marcos.

Untuk meredakan ketegangan politik yang berkembang dengan cepat dan semakin panas, Presiden Marcos memutuskan untuk menyelenggarakan pemilihan umum, agar rakyat bisa menjatuhkan pilihan mereka, apakan akan memilih Ny. Corazon atau Marcos. Kampanye-kampanye yang dilakukan kedua belah pihak menjelang pemilu dalam bulan Februari 1986 berlangsung dengan frekuensi tinggi. Berkali-kali Marcos melancarkan serangan ke alamat pribadi Ny. Corazon dengan cara meremehkan kemammpuannya. Celaan Marcos tersebut menimbulkan ketidaksenangan kaum wanita di negeri itu, yang pada akhirnya sangat merugikan marcos sendiri.

Ketika hasil pemilu bulan Februari 1986 diumumkan dengan resmi oleh pemerintah ternya Presiden Marcos dinyatakan memperoleh suara terbanyak. Namun pihak oposisi menuduh pemerintah melakukan kecurangan dalam perhitungn asuara. Pihak oposisi mendaat bukti-bukti bahwa Ny. Corazonlah yang memperoleh dukungan terbesar dari suara pemilih. Dalam suasana tuduh-menuduh dan aksi-aksi unjuk rasa yang meluas ke seluruh wilayah Filipina, Presiden Marcos mengambil tindakan sendiri dengan mempercepat proses pengambilan sumpah dan pelantikan dirinya sebagai presiden untuk masa jabatan enam tahun berikutnya. Hal serupa juga dilakukan oleh ny. Corazon , sehingga Filipina pada saat itu mempunyai dua orang presiden.
Pada saat-saat krisis yang mengancam persatuan dan kehancuran Negara, dua orang tokoh pimpinan militer Filipina, yaitu Menteri Pertahanan Jenderal Juan Ponce Enrile dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Filipina Jenderal Fidel Ramos berbalik haluan menggabungkan diri dengan Ny. Corazon Aquino dan Salvador Laurel menentang Marcos. Bergabungnya kedua jenderal tersebut mempercepat proses peredaran situasi dan menyingkirnya Marcos dan keluarganya dari Filipina. Atas desakan pemerintah Amerika Serikat dan dengan mempergunakan pesawat militer Amerika Serikat, Marcos dan keluarganya dibawa ke suatu pulau di Pasifik, kemudian dipindahlan ke Hawaii. Kemudian berakhirlah era kemimpinan Marcos yang selama hamper 20 tahun. Pada tanggal 25 Februari Majelis Nasional melantik dan mengambil sumpah Ny. Corazon Aquino sebagai presiden dan Salvador Laurel sebagai wakil presiden. Revolusi tak berdarah tersebut sering dijuluki “Revolusi Bunga” itu berhasil dengan sukses. Namun tak berarti segala persoalan telah terselesaikan.

F. Kudeta Singkat Pendukung Marcos

Hanya lima bulan setelah pelantikan Ny. Corazon Aquino menjadi presiden Filipina, salah seorang pendukung Marcos, Jederal Rolando Abadilla, seorang perwira intel yang cukup dikenal di Malacanang, dibantu oleh sekitar 200 anggota militer, membangkang. Usaha kudeta yang lebih bersifat “psikologis” tersebebut hanya ingin menunjukan kepada rakyat dan dunia internasional bahwa kedudukan Presiden Corazon belum mantap. Pendukung-pendukung Marcos masih cukup besar dantetap bersemangat melanjutkan perjuangan untuk mengembalikan Marcos meraih kursi kepresidenan. Mereka melancarkan kudeta mini yang berusaha menggulingkan pemerintahan Ny. Corazon. Akan tetapi dalam tempo 36 jam dapat digagalkan tanpa sebutir peluru yang ditembakan.

Tokoh yang ditonjolkan selama kudeta itu adalah Arturo Tolentino, tokoh yang dicalonkan oleh Marcos untuk jabatan sebagai Wakil Presiden dalam pemilu 1986. Selain itu juga ada tokoh-tokoh militer yang mendukungnya. Arturo Tolentino beserta tokoh-tokoh militer sekutunya melancarkan aksi dari operation room di lantai 214 hotel Manila yang bertingkat 24.
Pada aksi itu dilancarkan, Presiden Corazo sedang berada di Pulau Mindanao dan Wakil Presiden Salvador Laurel sedang berkunjung ke Madrid.

Saat aksi tersebut sekitar 5.000 pengikut Marcos telah menempati pekarangan hotel, sedangkan 200 tentara yang bersenjata otomatis M-16 tampak siap siaga di dalam dan di luar hotel. Dalam suasana darurat itu, Arturo Tolentino berpidato bahwa alih kekuasaan telah dilancarkan atas nama bekas Presiden Fredinand Marcos yang saat itu berada di pengasingan di Honolulu. Dia mengklaim bahwa hanya Marcos yang berhak menjadi presiden di Filipina. Tapi untuk sementara Tolentino akan bertindak sebagai presiden sampai tiba saatnya Marcos kembali ke tanah air.

Massa Marcos yang dalam saat-saat “bersejarah” dan penuh ketegangan itu mulai melambai-lambaikan foto Marcos serta bendera Filipina, bukan saja menunggu pidato Tolentino, tapi juga dengan harap-harap cemas menanti datangnya pasukan tank dari Ilocos Norte, kampong kelahiran Marcos di Luzon Utara. Menurut rencana para pemberontak, pasukan tank itu akan dating memperkuat posisi mereka di samping sebuah kapal meriam yang kabarnya beralbuh di Teluk Manila. Namun pasukan yang ditunggu-tunggu itu tidak kunjung datang dan Menteri Pertahanan Enril menolak ajakan pemberontak untuk bergabung.

Para pendukung Marcos yang berjumlah 5.000 orang satu-persatu meninggalkan lapangan Hotel Manila karena merasa tak berdaya. Enrile segera member peringatan kepada anggota militer tentara untuk menghentikan petualangan mereka dan hotel harus dikosongkan paling lambat pukul 06.00, Selasa. Khusus kepada anggota tentara diperintahkan untuk melaporkan diri kesatuannya masing-masing. Perintah Enrile ditaati dan kudeta gagal itu pun berakhir bersamaan dengan sirnanya harapan Marcos.

Sumber:

  • Bresnan, John.1988.Krisis Filipina: Zaman Marcos dan Keruntuhannya. Jakarta:Gramedia
  • Mangandaralam, Syahbuddin.1993.Mengenal Dari Dekat Filipina-Negara Tanah Air Patriot Pujangga Jose Rizal(Edisi Revisi).Bandung: PT Remaja Rosdakarya
  • Makalah Politik Pemerintahan Marcos karya Wahyu Setyaningsih (Mahasiswa UNY Pendidikan Sejarah 2008)
  • Majalah Tempo 8 Maret 1986 Laki-Laki Luar Biasa Dari Tanah Gersang

0 komentar:

Poskan Komentar